Sabtu, 14 Mei 2011

TATA KATA

TATA KATA

A. Jenis Kata
Dalam buku Tata bahasa Baku Bahasa Indonesia, kata dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu nomina (kata benda), verba (kata kerja), adjektiva (kata sifat), adverbia (kata keterangan), dan kata tugas (terdiri atas kata depan dan kata sambung/hubung)
Ciri Nomina:
1.menyatakan suatu benda atau sesuatu yang dibendakan
2.dapat berkedudukan sebagai subjek atau objek
3.dapat diakhiri oleh kata ini, iu, tersebut
4.dapat diperluas dengan yang+adjektiva
Contoh: meja, mainan, pembunuhan, perjuangan, perluasan, perjalanan, terdakwa, kesatuan, kepandaian, ketidakadilan, surat-menyurat, mobil-mobilan.
Ciri Verba:
1.dapat menyatakan makna kerja atau perbuatan
2.dapat berkedudukan sebagai predikat
3.dapat diawali oleh kata sedang, akan, sudah
4.dapat diperluas dengan dengan+se-reduplikasi adjektiva-nya (misal: berteriak dengan sekeras-kerasnya, menulis dengan serapi-rapinya
Contoh: mandi, makan, mati, berkata, berpikir, berjalan, menyanyi, mengarang, menganugerahkan, kehujanan, kelihatan, terdengar, terjatuh, terkontaminasi.
Ciri Adjektiva:
1.dapat diawali imbuhan ter-, agak, cukup, sangat, paling
2.dapat diikuti kata sekali yang berarti ‘paling’
Contoh: sakit, jauh, kering, ketakutan, merah, kuning, kehijau-hijauan.
Ciri Adverbia:
1.menjelaskan kalimat atau bagian kalimat yang lain
2.tidak berkedudukan sebagai subjek, predikat, maupun objek

Ciri Kata Tugas:
1.Tidak memiliki makna leksikal
2.Terbagi atas kata depan atau preposisi dan kata sambung atau konjungsi

B. Imbuhan
Jenis Imbuhan
Imbuhan atau afiks dapat diberdakan menjadi 3:
1.Prefiks atau awalan (ber-, ter-, se-, meng-, di-, ke-, pe-, per-)
2.Infiks atau sisipan (-in-)
3.Sufiks atau akhiran (-an, -i, -kan, -nya)
4.Konfiks atau simulfiks (pe-an, ke-an).

Memaknakan Imbuhan
Makna imbuhan sangat beragam, bergantung pada kalimatnya.
Contoh:
a.Penimbangan yang kamu lakukan harus diulang (proses menimbang)
b.Adik di diajak ibu ke penimbangan balita (tempat menimbang)
Untuk menentukan makna imbuhan dengan mudah, dapat dilakukan dengan cara berikut:
1.Gantilah imbuhan yang ditanyakan dengan tanda titik-titik.
2.Isilah titik-titik tersebut dengan kata yang sesuai dengan makna kalimat asal.
3.Dalam pengisian, bentuk dasar kadang-kadang perlu ditambahio imbuhan.
Contoh:
Apa makna imbuhan me-kan pada “Upaya meninggikan tanggul sudah dikerjakan.
Langkah 1: Upaya …tinggi tanggul sudah dikerjakan.
Langkah 2: Upaya membuat tanggul jadi tinggi sudah dikerjakan.
Jadi makna me-kan pada kalimat di atas: membuat jadi …

C. Reduplikasi atau Kata Ulang
Reduplikasi atau kata ulang adalah kata yang memiliki bentuk dasar yang diulang. Jadi yang diulang adalah bentuk dasarnya (kata yang menjadi dasar bagi proses pembentukan berikutnya), bukan kata dasarnya. Penentuan bentuk dasar didasarkan pada makna.
Contoh:
a. Ia menusuk-nusukkan pisau ke pohon pisang
Makna perulangannya: berkali-kali menusukkan
Jadi, bentuk dasarnya : menusukkan
Karena itu, menusuk-nusukkan tergolong reduplikasi / kata ulang sebagian
b. Kami bersalam-salaman
Makna perulangannya: saling bersalaman
Jadi, bentuk dasarnya : bersalaman
Karena itu, bersalam-salaman tergolong reduplikasi/kata ulang sebagian.

Prinsip Reduplikasi
1. Memiliki bentuk dasar yang diulang
2. Tidak mengubah jenis kata.
Artinya, dari bentuk dasar nomina harus tetap menjadi nomina, dari verba tetap menjadi verba, dan sebagainya
4.Bnetuk dasar merupakan kata yang memiliki makna yang lazim.

Makna Reduplikasi
Makna repulikasi bergantung pada konteks kalimatnya. Adapun kemungkinan maknanya antara lain:
1.banyak (mobil-mobil, siswa-siswa, kursi-kursi, tetamu)
2.sangat/kualitatif (cepat-cepat, tinggi-tinggi)
3.superlatif/paling (secepat-cepatnya, setinggi-tingginya)
4.berulang-ulang atau frekuentatif (tersenyum-senyum, melempar-lemparkan)
5.agak (kemerah-merahan, kehijau-hijauan)
6.menyerupai (keibu-ibuan, kekakan-kanakan)
7.saling/resiprokal (pandang-memandang, bersalam-salaman)
8.bermacam-macam (sayur-mayur, buah-buahan)

Jenis Reduplikasi
1. Reduplikasi Utuh, yaitu pengulangan bentuk dasar yang sama persis (makan-makan, pagi-pagi, jauh-jauh)
2. Reduplikasi Sebagian, yaitu pengulangan atas sebagian bentuk dasar (bersama-sama, tersenyum-senyum, masak-memasak)
3. Reduplikasi Berimbuhan, yaitu pengulangan bentuk dasar yang selanjutnya dilekati imbuhan (mobil-mobilan, secepat-cepatnya, kemerah-merahan)
4. Reduplikasi Berubah Bunyi atau Bervariasi Fonem, yaitu pengulangan bentuk dasar dengan mengalami perubahan bunyi. Jenis ini dibedakan lagi atas:
a. Berubah konsonan (sayur-mayur, beras-petas, lauk-pauk)
b. Berubah vokal (lika-liku, liak-liuk)
5. Reduplikasi Suku Depan atau Dwipurwa, yaitu pengulangan atas suku pertama bentuk dasar. Pengulangan jenis ini selalu disertai dengan perubahan bunyi vokal suku pertama menjadi /e/ (sesama, tetamu, rerumputan)
6. Reduplikasi Semu, yaitu kata dasar yang bentuknya menyerupai redupikasi (lumba-lumba, kura-kura, laba-laba)

Keterangan
Yang dimaksud bentuk dasar adalah kata yang menjadi dasar bagi pembentukan berikutnya. Bentuk dasar dapat diketahui dengan cara pemaknaan.
Contoh:
melempar-lemparkan = melemparkan berulang-ulang.
Jadi, bentuk dasarnya adalah melemparkan, bukan lempar atau melempar.

Aturan Penulisan Reduplikasi
1.Kata ulang ditulis dengan tanda hubung
2.Pengulangan kata majemuk atau frase ditulis lengkap
Contoh: rumah sakit-rumah sakit, kereta api-kereta api, kepala sekolh-kepala sekolah
3.Kedua kata pada pengulangan utuh diawali huruf besar, sedangkan jika merupakan pengulangan berimbuhannya maka huruf kapital hanya digunakan pada kata pertama.
Contoh:
a.Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2007; Menyelamatkan Anak-Anak Jalanan
b.Pelik-Pelik Perundang-undangan pada Masa Revolusi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar