Sabtu, 14 Mei 2011

PIDATO

PIDATO
KETERAMPILAN BERBICARA
1. PIDATO
Pidato atau orasi adalah pembicaraan seseorang kepada khalayak. Dalam kehidupan bermasyarakat, pidato sangat besar peranannya. Pidato yang disampaikan oleh orator (ahli pidato) dapat memengaruhi massa, bahkan bangsa. Sejarah mencatat, pidato Bung Tomo mampu membangkitkan semangat para arek Surabaya dalam menghadapi gempuran pasukan Sekutu; pidato Bung Karno mampu menggerakkan ratusan ribu pemuda untuk mendaftarkan diri sebagai sukarelawan merebut Irian Barat dari kekuasan Belanda; pidato Hitler mampu memengaruhi negaranya menyerbu ke sejumlah negara sehingga memicu pecahnya Perang Dunia II.
Sebagai bentuk komunikasi lisan, pidato dapat digunakan sebagai alat untuk memberitahukan informasi (informatif), menghibur (rekreatif), dan memengaruhi (persuasif). Adapun penyampaiannya dapat menggunakan metode naskah, menghafal, ekstemporan (persiapan dalam bentuk pokok-pokok pembicaraan), dan impromptu (serta merta, tanpa persiapan sama sekali).
Dalam forum resmi berskala luas, metode naskah paling sering digunakan, meskipun sebenarnya metode ini paling sulit menyesuaikan dengan perkembangan suasana. Penyebabnya, dalam forum resmi berskala besar, pembicara tidak berbicara sebagai pribadi. Ia mewakili lembaga yang dipimpinnya. Jadi, apa yang disampaiakan dalam forum adalah pernyataan lembaga. Karena itu, harus didokumentasikan. Bentuknya adalah naskah pidato.
Mengingat pentingnya peranan pidato, pembuatan naskah pidato harus dilakukan secara cermat. Untuk itu, ada beberapa langkah yang harus dilakukan, yaitu:
1.Menentukan topik / hal yang akan disampaikan
Tema hendaknya sesuai dengan latar belakang pertemuan/forum. Topik hendaknya dipilih yang menarik, yaitu berkaitan dengan diri pendengar, dibutuhkan oleh pendengar, sedang menjadi bahan pembicaraan di masyarakat, atau sedang menjadi perdebatan di tengah masyarakat.
2.Menentukan tujuan
Tujuan harus benar-benar dipahami pembuat naskah pidato. Tujuan yang ingin dicapai dapat sekadar menghibur, memberikan informasi, atau pun memengaruhi.
Tujuan sangat menentukan isi pidato. Pidato yang bertujuan menghibur akan banyak mengungkapkan hal-hal yang lucu dan memberikan kekuatan bathin. Pidato yang bertujuan memberitahukan akan banyak memngungkapkan data-data, sedangkan yang bertujuan memengaruhi akan banyak mengungkapkan alasan dan bukti-bukti.
3.Menganalisis pendengar
Mengetahui latar belakang calon pendengar sangatlah penting agar ragam dan pilihan kata dapat disesuaikan. Pidato yang berhasil adalah pidato yang dapat dipahami pendengar. Karena itu, kosa katanya pun harus disesuaikan dengan kemampuan berbahasa mereka.
4.Mengumpulkan bahan atau data
Naskah pidato, khususnya yang bersifat informatif dan argumentaif/persuasif, hendaknya berbobot, yakni tidak haya berisi pernyataan-pernyataan usang dan kata-kata kosong. Pidato yang berbobot mengandung banyak data dan bukti sehingga memberikan pengetahuan dan kesadaran baru bagi pendengarnya.
5.Menyusun kerangka
Sebagaimana karangan biasa, penyusunan naskah pidato hendaknya didahului dengan pembuatan kerangka. Adapun kerangka umum pidato adalah sebagai berikut:
a.Pendahuluan
Bagian ini antara lain berisi salam dan ucapan syukur. Pada bagian ini disampaikan pula pengantar ke arah isi pokok, misalnya dengan pernyataan “Pada kesempatan ini izinkan saya untuk menyampaikan tentang pentingnya makna peringatan Hari Aids Sedunia”.
b.Isi pokok
Bagian ini berisi uraian atas isi pokok. Uraian hendaknya disusun dengan pola induktif (simpulan diperoleh berdasarkan analisis atas data-data atau bukti).
c.Penutup
Bagian ini berisi penegasan kembali simpulan, harapan atau ajakan untuk melakukan sesuatu, permohonan maaf, dan salam.
6.Menguraikan kerangka menjadi naskah lengkap
Dalam bagian ini, penulis harus cermat dalam memilih data, menggunakan kosa kata, dan menggunakan sapaan serta salam yang tepat. Untuk memisahkan antarbagian, penulis pidato dapat menyisipkan sapaan (misalnya, “Para peserta upacara yang saya hormati, Hadirin yang saya muliakan”). Sapaan ini sangat berguna untuk mengurangi kepenatan pendengar dalam menyimak pidato.

Agar jelas, perhatikan naskah pidato yang rumpang berikut ini.


Pidato Gubernur Jawa Tengah
dalam Pembukaan Pekan Seni Jawa Tengah
tanggal 23 Maret 2007 di Semarang

Assalamualaikum wr. wb.,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Yang terhormat para Bupati dan Walikota
Yang terhormat para Kepala Dinas di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Tegah dan peserta upacara yang berbahagia,

Puji syukur marilah kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua sehingga kita semua dapat menghadiri Upacara Pembukaan Pekan Seni Jawa Tengah ini.
Pada kesempatan ini izinkan saya untuk menyampaikan pandangan dan harapan-harapan pemerintah Provinsi Jawa Tengah terhadap pengembangan seni dan kebudayaan di Jawa Tengah.
Hadirin yang berbahagia,
………………………………………………………………………………………..
………………………..uraian pokok ………………………………………………….
Hadirin yang saya hormati,
Dari uraian di atas dapatlah kita simpulkan bahwa …(dan seterusnya)….
Saya berharap ……… (dan seterusnya) ………..
Hadirin yang saya hormati,
Demikian sambutan singkat saya. Atas perhatian hadirin, saya ucapkan terima kasih. Dan, sungguh, tiada gading yang tak retak. Karena itu, saya mohon maaf bila ada tutur kata yang salah.
Wassalamualaikum wr. wb.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar